Geologist

Minggu, 29 Juni 2014

Memahami Medan Kerja dan Sifat Fisik Material


Material yang berada dipermukaan bumi ini sangat beraneka ragam, baik jenis, bentuk dan lain sebagainya. Oleh karenanya alat yang digunakan memindahkanpun beraneka ragam pula., Yang dimaksud dengan material dalam pekerjaan pemindahan tanah (earth moving), meliputi tanah,batuan, vegetasi (pohon, semak belukar dan alang-alang). Sifat phisik yang harus dihadapi alat berat akan berpengaruh besar terutama dalam hal :
1. menentukan jenis alat yang digunakan dan taksiran produksi atau kapasitas produksinya.
2. Perhitungan volume pekerjaan
3. Kemampuan kerja alat pada kondisi material yang ada.

Jadi dengan tidak sesuainya alat dengan kondisi material, akan menimbulkan kesulitan berupa tidak efisiensinya alat berat, yang otomatis akan menimbulkan kerugian karena banyaknya waktu yang terbuang (loss time).
Baberapa sifat phisik material dan kondisi medan kerja yang penting untuk siperhatikan dalam pekerjaan pemindahan tanah adalah sebagai berikut :
1. Pengembangan Material
2. Berat Material
3. Bentuk Material
4. Kohesivitas Material
5. Kekerasan Material Daya Dukung Tanah
Pengembangan Material 
Yang dimaksud dengan pengembangan material adalah perubahan berupa penambahan atau pengurangan material/tanah yang diganggu dari bentuk aslinya. Dari faktor tersebut kondisi material dibagi dalam tiga bagian. Seperti pada gambar 1 berikut ini :
GAMBAR 1

a) Keadaan asli (Bank condition)
Keadaan material yang masih alami dan belum mengalami gangguan teknologi dinamakan keadaan asli (Bank). Dalam keadaan seperti ini, butiran-butiran yang dikandungnya masih terkonsilidasi dengan baik. Satian volume material dalam kondisi asli disebut meter kubik dalam keadaan asli (Bank Cubic Meter atau BCM)

b) Keadaan gembur (loose condition)
Material yang telah digali dari tempat asalnya, akan mengalami perubahan volume, yaitu mengembang. Hal ini disebabkan adanya penambahan rongga-rongga udara pada butiran-butiran tanah. Dengan demikian volumenya bertambah besar. Satuan volume material dalam kondisi gembur umumnya disebut meter kubik dalam keadaan gembur (Loose Cubic Meter atau LCM)

c) Keadaan padat (Compact condition)
Keadaan ini akan dialami oleh material yang mengalami proses pemadatan (pemampatan). Perubahan volume terjadi, karena adanya penyusutan rongga udara diantara partikel-partikel material tersebut. Dengan demikian volumenya berkurang, sedangkan beratnya tetap. Satuan material dalam kondisi padat disebut meter kubik dalam keadaan padat (Compact Cubic Meter atau CCM).

Dalam perhitungan produksi, material yang didorong/digusur dengan blade, yang dimuat dengan bucket atau vessel, kemudian ditebar adalah dalam kondisi gembur. Untuk menghitung volume tanah sudah diganggu dari bentuk aslinya, dengan melakukan penggalian material tersebut, atau melakukan pemadatan dari material yang sudah gembur menjadi padat, perlu dikalikan dengan faktor yang disebut faktor konversi.
Contoh 1 : bila 300 BCM (Bank Cubic Meter) tanah biasa asli digali sehingga menjadi gembur, maka berapa volumenya sekarang ?
Jawab      : Dari tabel faktor konversi, disapat data, bahwa tanah berpasir, faktor konversi dari asli ke gembur adalah 1.25, maka volume sekarang menjadi,
                  volume gembur = Volume asli x faktor
                  = 300 x 1.25
                  = 375 LCM (Loose Cubic Meter)
Contoh 2  : Ada 400 LCM tanah berpasir dalam keadaan gembur. Apabila kemudian tanah ini        dipadatkan dengan compactor, maka berapakah volume sekarang :
Jawab      : Kembali lihat tabel. Kemudian akan diperoleh faktor konversi tanah berpasir dari gembur             kepadat 0.72, maka :
                  Volume padat = volume gembur x faktor
                                       = 400 x 0.72
                                       = 288 CCM (Compacted Cubik Meter)



Berat Material 

Berat adalah sifat yang dimiliki oleh setiap material. Kemampuan suatu alat berat untuk melakukan pekerjaan seperti mendorong, mengangkat, mengangkut dan lain-lain, akan dipengaruhi oleh berat material tersebut. Seperti yang di alami oleh alat pada gambar 2, dibawah ini :
Waktu mengangkut tanah dengan berat 1.5 ton/m3, alat bekerja dengan baik. Tetapi pada saat mengangkut tanah dengan berat 1.8 ton/m3, ternyata alat angkut mengalami beban berat sehingga unit terlihat berat untuk menggelinding.


Bentuk Material

Faktor ini harus dipahami, karena akan berpengaruh terhadap banyak sedikitnya material tersebutdapat menempati suatu ruangan tertentu. Mengingat material yang kondisi butirannya kecil, kemungkinan isi dapat sama (senilai) dengan volume ruangan yang ditempatinya. Sedangkan material yang berbongkah-bongkah akan lebih kecil dari nilai volume ruangan yang ditempati.


Oleh karena itu, material jenis ini akan berbentuk rongga-rongga udara yang memakan sebagian isi ruangan. Beberapa material yang mampu ditampung oleh suatu ruangan dapat di hitung dengan caramengoreksi ruangan tersebut dengan suatu faktor yang disebut “faktor muat” :”Bucket Factor” atau “Pay Load Factor”.

Kohesivitas Material

Yang disebut kohesivitas material adalah daya lekat atau kemampuan saling mengikat diantara butir-butir material itu sendiri.
Material dengan kohesivitas tinggi akan mudah menggunung. Jadi apabila material itu berada pada suatu tempat, akan mujung. Volume material yang menempati ruangan ini ada kemungkinan bisa melebihi volume ruangannya. Umpamanya tanah liat. Sedangkan material yang kohesivitas yang kurang baik, misalnya pasir, apabila menempati suatu ruangan akan sukar menggunung. Melainkan cenderung peres/rata (struck).


Kekerasan Material.

Material yang keras akan lebih sukar untuk di koyak, di gali atau di kupas oleh alat berat. Hal ini akan menurunkan produktivitas alat tersebut. Material yang tergolong keras adalah obat-batuan.
Aplikasi alat berat yang paling umum untuk material batu-batuan ialah : pembongkaran batu dengan cara ripping. Oleh karena itu sebelum menentukan alat berat yang akan digunakan meripping batuan, terlebih dahulu di tentukan tingkat appabilitasnya.

Metode untuk menentukan rippabilitas :

A. Mengklasifikasi jenis dan tekstur batuan.

Batuan sedimen
  1. Berbentuk lapisan-lapisan 
  2. Semakin tipis lapisan semakin mudah di ripping 
  3. Contoh : Sand stone, limestone, shale, konglomerate. 
Batuan Beku 
  1. Tidak membentuk perlapisan 
  2. Relatif sulit untuk di ripping 
  3. Contoh : Granite, basalt, andesite, dll. 
Batuan Metamorfik
  1. Berbeda-beda rippabilitasnya tergantung pada : tebal perlapisan dan kekuatan ikatan kristalnya 
  2. Contoh : Gneiss, schist, kwarsit, dll. 
Tingkat rippabilitas batuan ditentukan oleh :
  • Tingkat pelapukan batuan 
  • Kekuatan ikatan kristal batuan 

Mudah di ripping :
  1. Ada “fault” atau patahan 
  2. Tingkat pelapukan tinggi 
  3. Kristalnya mudah lepas. 
  4. Memiliki banyak lapisan tipis. 
  5. Memiliki retakan yang besar. 
  6. Mengalami perembesan oleh air 
  7. Memiliki pperlapisan vertikal. 

Sulit di ripping
  1. Memiliki partikel-partikel kecil yang padat 
  2. Memiliki cukup kadar air untuk memadatkan permukaan batu. 
  3. Tidak ada retakan 
  4. Masif dan homogenikatan kristalnya yang kuat. 


B. Penentuan dengan pengujian di laboratorium.
  • Dilakukan dengan cara uji kompresi dan kekerasan contoh batuan. 
  • Hasilnya lebih tinggi dari keadaan sebenarnya, karena : mengabaikan faktor-faktor yang ada di lapangan. 

C. Penentuan dengan pengujian di lokasi / lapangan.
Metoda :
  • Pengujian cepat rambat gelombang (seismic wave velocity/rippermeter test). 
  • Pengujian hambatan listrik 
  • Pengujian mekanis di lapangan. 
Yang praktis dan paling sering di gunakan adalah :pengukuran cepat rambat gelombang seismik (seismic wave velocity test).

Secara sederhana gambaran seismik wave velocity test dilakukan seperti gambar berikut. Hasil bisa di ketahui kekerasan dan kedalaman masing-masing lapisan keras sampai yang lunak.

Cara pengetesan :
Dengan menempatkan /sedikit tertanam alat ceophone a b c d e dengan jarak tertentu kemudian dirangkaikan sedemikian rupa, ujung kabel pada power source, satu lagi di hubungkan dengan peralatan khusus (Signal Stacking Seismograph).Setelah power source dipukul beberapa kali, maka akan diperoleh gambaran mengenai kekerasan material tersebut. Sehingga dapat di simpulkan type alat berat yang cocok.

Daya Dukung Tanah

Adalah kemampuan tanah untukmendukung alat berat yang berlalu-lalang diatasnya. Apabila suatu alat berat berada di atas tanah, maka alat berat tersebut akan memberikan “Ground pressure”, sevangkan perlawanan yang diberikan adalah “Daya Dukung”. Jika ground pressure alat lebih besar dari daya dukung tanah, maka alat tersebut akan terbenam.
Nilai daya dukung tanah dapat diketahui dengan cara pengukuran/test langsung di lapangan seperti gambar di atas. Alat yang umum digunakan untuk test daya dukung tanah disebut “Cone Penetro Meter”. 

Diposkan oleh

Sabtu, 28 Juni 2014

Siklus Batuan (Rock Cycle)


Sebelumnya kita sudah tahu bahwa di bumi ada tiga jenis batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Ketiga batuan tersebut dapat berubah menjadi batuan metamorf tetapi ketiganya juga bisa berubah menjadi batuan lainnya. Semua batuan akan mengalami pelapukan dan erosi menjadi partikel-partikel atau pecahan-pecahan yang lebih kecil yang akhirnya juga bisa membentuk batuan sedimen. Batuan juga bisa melebur atau meleleh menjadi magma dan kemudian kembali menjadi batuan beku. Kesemuanya ini disebut siklus batuan atau ROCK CYCLE.
 weathering.jpg 

Semua batuan yang ada di permukaan bumi akan mengalami pelapukan. Penyebab pelapukan tersebut ada 3 macam:
  1. Pelapukan secara fisika: perubahan suhu dari panas ke dingin akan membuat batuan mengalami perubahan. Hujan pun juga dapat membuat rekahan-rekahan yang ada di batuan menjadi berkembang sehingga proses-proses fisika tersebut dapat membuat batuan pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi.
  2. Pelapukan secara kimia: beberapa jenis larutan kimia dapat bereaksi dengan batuan seperti contohnya larutan HCl akan bereaksi dengan batu gamping. Bahkan air pun dapat bereaksi melarutan beberapa jenis batuan. Salah satu contoh yang nyata adalah “hujan asam” yang sangat mempengaruhi terjadinya pelapukan secara kimia.
  3. Pelapukan secara biologi: Selain pelapukan yang terjadi akibat proses fisikan dan kimia, salah satu pelapukan yang dapat terjadi adalah pelapukan secara biologi. Salah satu contohnya adalah pelapukan yang disebabkan oleh gangguan dari akar tanaman yang cukup besar. Akar-akar tanaman yang besar ini mampu membuat rekahan-rekahan di batuan dan akhirnya dapat memecah batuan menjadi bagian yang lebih kecil lagi.
erosion.jpgSetelah batuan mengalami pelapukan, batuan-batuan tersebut akan pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi sehingga mudah untuk berpindah tempat. Berpindahnya tempat dari partikel-partikel kecil ini disebut erosi. Proses erosi ini dapat terjadi melalui beberapa cara:
  1. Akibat grafitasi: akibat adanya grafitasi bumi maka pecahan batuan yang ada bisa langsung jatuh ke permukaan tanah atau menggelinding melalui tebing sampai akhirnya terkumpul di permukaan tanah.
  2. Akibat air: air yang melewati pecahan-pecahan kecil batuan yang ada dapat mengangkut pecahan tersebut dari satu tempat ke tempat yang lain. Salah satu contoh yang dapat diamati dengan jelas adalah peranan sungai dalam mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil ini.
  3. Akibat angin: selain air, angin pun dapat mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil ukurannya seperti halnya yang saat ini terjadi di daerah gurun.
  4. Akibat glasier: sungai es atau yang sering disebut glasier seperti yang ada di Alaska sekarang juga mampu memindahkan pecahan-pecahan batuan yang ada.
deposition.jpgPecahan-pecahan batuan yang terbawa akibat erosi tidak dapat terbawa selamanya. Seperti halnya sungai akan bertemu laut, angin akan berkurang tiupannya, dan juga glasier akan meleleh. Akibat semua ini, maka pecahan batuan yang terbawa akan terendapkan. Proses ini yang sering disebut proses pengendapan. Selama proses pengendapan, pecahan batuan akan diendapkan secara berlapis dimana pecahan yang berat akan diendapkan terlebih dahulu baru kemudian diikuti pecahan yang lebih ringan dan seterusnya. Proses pengendapan ini akan membentuk perlapisan pada batuan yang sering kita lihat di batuan sedimen saat ini. 
compaction.jpgPada saat perlapisan di batuan sedimen ini terbentuk, tekanan yang ada di perlapisan yang paling bawah akan bertambah akibat pertambahan beban di atasnya. Akibat pertambahan tekanan ini, air yang ada dalam lapisan-lapisan batuan akan tertekan sehingga keluar dari lapisan batuan yang ada. Proses ini sering disebut kompaksi. Pada saat yang bersamaan pula, partikel-partikel yang ada dalam lapisan mulai bersatu. Adanya semen seperti lempung, silika, atau kalsit diantara partikel-partikel yang ada membuat partikel tersebut menyatu membentuk batuan yang lebih keras. Proses ini sering disebut sementasi. Setelah proses kompaksi dan sementasi terjadi pada pecahan batuan yang ada, perlapisan sedimen yang ada sebelumnya berganti menjadi batuan sedimen yang berlapis-lapis. Batuan sedimen seperti batu pasir, batu lempung, dan batu gamping dapat dibedakan dari batuan lainnya melalui adanya perlapisan, butiran-butiran sedimen yang menjadi satu akibat adanya semen, dan juga adanya fosil yang ikut terendapkan saat pecahan batuan dan fosil mengalami proses erosi, kompaksi dan akhirnya tersementasikan bersama-sama. 
metamorphism.jpgPada kerak bumi yang cukup dalam, tekanan dan suhu yang ada sangatlah tinggi. Kondisi tekanan dan suhu yang sangat tinggi seperti ini dapat mengubah mineral yang dalam batuan. Proses ini sering disebut proses metamorfisme. Semua batuan yang ada dapat mengalami proses metamorfisme. Tingkat proses metamorfisme yang terjadi tergantung dari:
  1. Apakah batuan yang ada terkena efek tekanan dan atau suhu yang tinggi.
  2. Apakah batuan tersebut mengalami perubahan bentuk.
  3. Berapa lama batuan yang ada terkena tekanan dan suhu yang tinggi.
melting.jpgDengan bertambahnya dalam suatu batuan dalam bumi, kemungkinan batuan yang ada melebur kembali menjadi magma sangatlah besar. Ini karena tekanan dan suhu yang sangat tinggi pada kedalaman yang sangat dalam. Akibat densitas dari magma yang terbentuk lebih kecil dari batuan sekitarnya, maka magma tersebut akan mencoba kembali ke permukaan menembus kerak bumi yang ada. Magma juga terbentuk di bawah kerak bumi yaitu di mantle bumi. Magma ini juga akan berusaha menerobos kerak bumi untuk kemudian berkumpul dengan magma yang sudah terbentuk sebelumnya dan selanjutnya berusaha menerobos kerak bumi untuk membentuk batuan beku baik itu plutonik ataupun vulkanik. 
extrusive.jpgKadang-kadang magma mampu menerobos sampai ke permukaan bumi melalui rekahan atau patahan yang ada di bumi. Pada saat magma mampu menembus permukaan bumi, maka kadang terbentuk ledakan atau sering disebut volcanic eruption. Proses ini sering disebut proses ekstrusif. Batuan yang terbentuk dari magma yang keluar ke permukaan disebut batuan beku ekstrusif. Basalt dan pumice (batu apung) adalah salah satu contoh batuan ekstrusif. Jenis batuan yang terbentuk akibat proses ini tergantung dari komposisi magma yang ada. Umumnya batuan beku ekstrusif memperlihatkan cirri-ciri berikut:
  1. Butirannya sangatlah kecil. Ini disebabkan magma yang keluar ke permukaan bumi mengalami proses pendinginan yang sangat cepat sehingga mineral-mineral yang ada sebagai penyusun batuan tidak mempunyai banyak waktu untuk dapat berkembang.
  2. Umumnya memperlihatkan adanya rongga-rongga yang terbentuk akibat gas yang terkandung dalam batuan atau yang sering disebut “gas bubble”.
intrusive.jpgBatuan yang meleleh akibat tekanan dan suhu yang sangat tinggi sering membentuk magma chamber dalam kerak bumi. Magma ini bercampur dengan magma yang terbentuk dari mantle. Karena letak magma chamber yang relatif dalam dan tidak mengalami proses ekstrusif, maka magma yang ada mengalami proses pendinginan yang relatif lambat dan membentuk kristal-kristal mineral yang akhirnya membentuk batuan beku intrusif. Batuan beku intrusif dapat tersingkap di permukaan membentuk pluton. Salah satu jenis pluton terbesar yang tersingkap dengan jelas adalah batholit seperti yang ada di Sierra Nevada – USA yang merupakan batholit granit yang sangat besar. Gabbro juga salah satu contoh batuan intrusif. Jenis batuan yang terbentuk akibat proses ini tergantung dari komposisi magma yang ada. Umumnya batuan beku intrusif memperlihatkan cirri-ciri berikut:
  1. Butirannya cukup besar. Ini disebabkan magma yang keluar ke permukaan bumi mengalami proses pendinginan yang sangat lambat sehingga mineral-mineral yang ada sebagai penyusun batuan mempunyai banyak waktu untuk dapat berkembang.
  2. Biasanya mineral-mineral pembentuk batuan beku intrusif memperlihatkan angular interlocking.

Proses-proses inilah semua yang terjadi dimasa lampau, sekarang, dan yang akan datang. Terjadinya proses-proses ini menjaga keseimbangan batuan yang ada di bumi.
Referensi :

Diktat Swabakar Batubara

A. Pengertian Swabakar


Swabakar (Spontaneous Combustion) adalah pembakaran yang terjadi dengan sendirinya. Swabakar dapat terjadi pada berbagai tempat penambangan batubara (tambang terbuka atau tambang dalam) atau bahkan pada stockpile batubara.
Swabakar merupakan malapetaka dahsyat bila terjadi pada tambang bawah tanah batubara. Keterlambatan dalam mendeteksi pencetusnya dapat menimbulkan kebakaran besar dan tak terkendali, dapat menyebabkan cedera, kematian para pekerja yang ada dalam tambang, bahkan dapat menyebabkan hancurnya pertambangan, karena dapat berproduksi lagi, dan  harus ditutup untuk selama-lamanya.

B.Proses Terjadninya Swabakar Batubara

Swabakar batubara terjadi akibat proses oksidasi batubara di dalam udara. Batubara pada kondisi terbuka di udara dapat menyerap oksigen dalam waktu lama dan perlahan-lahan akan terjadi proses oksidasi yang menghasilkan proses panas. Apabila panas ini terakumulasi karena tidak dilepas atau didinginkan, maka temperaturnya meningkat, yang akhirnya mencapai titik nyala (ignition point) dan terbakar menimbulkan api. Oleh karena itu, swabakar tidak terjadi di zona yang disekat (ditutup rapat) secara sempurna, karena proses oksidasi batu bara di sini tidak berlanjut. Sebaliknya, di tempat yang dilewati angin yang banyak, walaupun batu bara teroksidasi, panas yang timbul akan dilepas dan didinginkan, sehingga tidak sampai terbakar.
Bila panas swabakar itu sebelum mencapai titik nyala, menimbulkan awan debu batubara dan terdapat pula gas methan yang teremisi ke udara di sekitarnya, maka swabakar itu dapat diiringi dengan terjadinya ledakan yang cukup dahsyat.


Silahkan download diktat lengkapnya disini

Regards
Adi

Kamis, 26 Juni 2014

Pemindahan Tanah Mekanis (PTM)


PEMINDAHAN TANAH MEKANIS ( PTM )

·         Apa itu PTM ?
·         Yaitu memindahkan tanah penutup untuk mendapatkan galian tertentu secara mekanis menggunakan alat – alat pertambangan dengan perencanaan yang matang.
·         Lapisan penutup paling atas dikenal dengan tanah top soil
·         Lapisan tanah penutup dikenal juga sebagai  overburden ( OB )
·         Yaitu lapisan tanah yang harus di gali / di buang untuk mendapatkan bahan galian tertentu.
FAKTOR - FAKTOR DI PTM
1.      Accesibility / Transportasi 
2.      Vegetation
3.      Climatic Condition
4.      Altitude &  Temperature
5.      Haul Road, Grade & Distance
6.      Production Cycle Component
7.      Material & Perubahan Volume

1.      Accesibility / Transportasi
·         Kesampain daerah
·         Mudah tidaknya lokasi dicapai
·         Operating Cost

2.      Vegatation
·         Perlu diketahui jenis pohon , diameter, ketinggian rata- rata pohon
·         Ditebang atau dirobohkan , bisa dimanfaatkan / tidak

3.      Climatic Condition
·         Perlu diketahui curah hujan baik harian, bulanan, atau tahunan
·         Sehingga bisa direncanakan alat apa saja yang cocok dengan daerah penambangan
·         Contoh :
Misal dalam setahun ( 365 hari ) harus dikupas 1.200.000 BCM , jika hujan terjadi selama 2 bulan ( 60 ) hari dalam setahun, maka
                  Alat hanya dapat bekerja selama ; 365 – 60 hari = 305 hari

                 
Maka OB yang harus dikupas 1.200.000 BCM : 305 hari = 3.934,43 BCM / hari
Sehingga perlu ditentukan jenis alat tambang sesuai dengan sasaran 3.934,,43 BCM / hari.


4.      Altitude & Temperature
·         Altitude adalah ketinggian daerah tertentu diatas permukaan air laut ( ELEVASI )
·         Temperature ,  tinggi rendahnya ditentukan oleh alat pengukurur suhu salah satu factor dalam menentukan unit
·         Ketinggian mesin sangat tergantung pada ketinggian tempat, semakin tinggi tempat maka tekanan atmosfer menurun , sehingga kerapatan menurun , menybabkan oksigen berkurang
·         Sangat berpengaruh dengan engine
·         Perlu dilakuakan koreksi horse power


Horse Power
·         Tenaga adalah usaha / kerja yang dilakukan per satuan waktu
·         Usaha adalah gaya yang diperlukan untuk memindahkan sesuatu dari satu tempat ketempat lain
·         Jadi  Usaha = Gaya x Jarak
·         Satuan tenaga adalah HP ( Horse Power )
·         1 HP = 550 lb ft/menit ( 33.000 lb ft/ detik  )
Contoh :
·         Alat 100 HP dipake pada ketinggian 2000 m diatas p.a.l berapa HP sesungguhnya?
( HP untuk 4 Tak akan turun 3% pada 1000 m pertama )
( 2000 – 1000 ) / 1000 m = 1
Jadi HP sesungguhnya  = 100 hp – ( 1x 3% x 100 hp ) = 97 HP


5.      Haul Road, Grade & Distance
·                               Haul road = jalan lintas
·                               Grade  = tanjakan , kelandaian , atau kecuraman jalan std 8% ( beda tinggi / jarak
·                               Distance = jarak angkut

6.      Production Cycle Component  ( Siklus Produksi )
·         Loading
·         Hauling
·         Dumping
·         Return Time
·         Spot

7.      Material & Perubahan Volume
·         Weight ( berat material , berkaitan dengan Berat Jenis / Spesific Gravity
·         Swell ( Pengembangan )
·         Compactibility ( Pemampatan ) 


 PERHITUNGAN PENGEMBANGAN MATERIAL


            Swell adalah pengembangan volume suatu material setelah di gali dari tempatnya . pengembangan suatu material perlu di ketahui karena yang diperhitungkan pada galian selalu didasarkan pada ‘’ INSITU’’.  Sedangkan material yang ditangani ( yamg dimuat untuk diangkat ) selalu material yang mengembang (loose ).
Dari data yang di dapatkan, density in bank  ( insitu ) adalah 2,45 ton/m3 dan loose density adalah 2,07 ton /m3.

Untuk swell % :
            Rumus yang digunakan adalah berdasarkan pada  density :
           
            % SWELL         =          DENSITY IN BANK – LOOSE DENSITY
                                                            LOOSE DENSITY
                                   

 =         2,45 -  2,07
                                                       2,07
                                   

  =        18 %

Untuk Swell Faktor :
Rumus yang digunakan juga berdasar density :

SF              =          LOOSE DENSITY
                              DENSITY IN BANK

                  =          2,07
                              2,45

                  =          0,85



PERHITUNGAN UMUR TAMBANG

Cadangan Terukur            =   CDT
Faktor Kehilangan =   Ls
Cadangan Terjual =   CDM
Umur Tambang     =   UT

Contoh :
     
CDT     =          730.221.00
Ls         =          5 %
CDM    =          CDT – ( CDT x Ls )
                        =          730.221 –( 730.221 x 0.05 )
                        =          730.221 -  36.551,05
CDM    =          693.709,95  MT

OVER BURDEN      =          3.296.568        Bcm
STRIPING RATIO    =          1          :           4.75

Bila rencana produksi ( R P )  per tahun adalah =  150.000 MT

Maka Umur tambang  adalah :

UT              =          693.709,95  MT           :           150.000 MT                            

                  =          4 Tahun           7 bulan




PERHITUNGAN PRODUKTIFITAS DAN KEBUTUHAN ALAT

RUMUS PRODUKTIVITY  LOADING ( ALAT MUAT )

TP =           3600 X Kb X Fp X Sf X Ef m3/ Jam
                                          CT

TP              =          KEMAMPUAN PRODUKSI ( m / Jam )
3600          =          KONVERSI JAM KE DETIK
KB              =          FAKTOR  PENGISIAN ( % )
Sf               =          SWELL FAKTOR (  % )
Ef               =          EFISIENSI KERJA ( % )
CT              =          CYCLE TIME

1.      PRODUKTIFITAS & KEBUUHAN ALAT MUAT
·         EXCA 320 D

Produktivity   =            Produksi alat per Cycle ( m3 ) x 60 / cycle time x Efisiensi Kerja
           
Q         =          q x ( 60 / Ct  ) x E   m3/jam


 Q         =          q x ( 60 / Ct ) x E
            =          1,4 x ( 60 / 0,60 ) x 0,77

            =          108,07 m3/jam

Produktifitas alat  dalam setahun

            =          108,07 m3/jam           x          4773  jam/tahun
            =          515,799,02  m3/jam   x          2,20     ton/m3            x          0,76
           
=          862.415,96 ton / tahun
           

Target Produksi OB dalam setahun

            =          750.000  m3/tahun     x          2,20  ton/m3               x          0,76

            =          1.254.000  ton/tahun


Jumlah Kebutuhan alat muat

            =          1.254.000  ton/tahun :           862.415,96  ton/tahun

            =          1,45 unit                      =          2 unit